GoriGorinaMoury

Kamis, 14 April 2016

Pete Pete oh Pete Pete

Sumber : mediamakassar.com
Mengendarai motor sebenarnya bukan hal baru buat saya. Namun setelah kecelakaan 6 (enam) tahun silam yang menyebabkan motor bapak saya rusak, celana saya robek dan beberapa luka  abadi di lutut dan siku saya, membuat saya harus mengubur keberanian mengendarai motor itu dalam-dalam.

Seiring berjalannya waktu, saya merasa kegiatan saya sangat terbatasi karena tidak mampu mengendarai motor. Sering kali saya tidak menghadiri kegiatan yang ingin saya hadiri karena alasan tempatnya terlalu jauh dan tidak ada yang antar-jemput serta akses angkutan umum yang sulit. Saya malas harus menyambung kendaraan beberapa kali pada titik tertentu yang tidak dijangkau oleh angkutan umum. Hal tersebut sungguh melelahkan dan menguras banyak waktu dan uang tentunya.

Kakak saya harus mengajar di sekolah  setiap harinya,  sedangkan adik laki-laki saya beberapa waktu lalu  ke Padang Lampe mengikuti kegiatan kampus dan akan menetap disana selama sebulan, sementara bapak saya selalu sibuk mengurusi usahanya setiap hari. Mereka adalah orang-orang yang selalu setia mengantar saya kemana-mana dan saat ini saya tidak bisa mengandalkan mereka. Hmm..pacar?? eaaa… pacar mana pacar?? (berusaha tegarr..haha). Semua hal itu yang  membuat saya harus memutar otak bagaimana saya dapat mandiri dan tidak menyusahkan orang lain.

Saat itu saya harus mengurus sesuatu yang sangat penting dikampus dan tidak ada satu orang pun yang bisa saya minta tolongi untuk antar. Dirumah ada sebuah motor Supra X  keluaran tahun 2001  yang terparkir rapi dan menganggur. Saya mengumpulkan nyali untuk memberanikan diri berangkat menggunakan motor itu menuju kampus merah yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan yang cukup jauh dari rumah saya. Sebelumnya saya tidak pernah mengendarai motor sejauh itu dijalan raya, biasanya hanya disekitar lorong perumahan dan itu pun sangat jarang saya lakukan.

Mau tak mau saya harus menempuh perjalanan sekitar 20 menit menyusuri jalan raya dan hari itu adalah pengalaman pertama saya mengendarai motor di jalan raya. Dengan tangan cukup tegang memegang kuat stang motor, kaki kiri menapak aspal yang cukup panas di bawah terik matahari menahan keseimbangan motor yang sedang berhenti sejenak. Saya merasakan  pundak saya mengeras kaku, saya merasa sepanjang perjalanan wajah saya tidak pernah rileks.

Di lampu merah Daya, tiba-tiba bunyi klakson saling beradu, mengisyaratkan lampu lalu lintas warna merah telah berganti dengan warna hijau. Saya berada tepat di baris terdepan dengan kendaraan di samping kiri dan kanan yang sejak tadi ikut menanti lampu hijau menyala. Saya melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan lampu lalu lintas.

Sepanjang perjalanan saya berusaha untuk tetap rileks. Meyakinkan diri untuk tetap fokus dengan kecepatan hanya berkisar 30-40 km/jam. Tiba-tiba angkutan umum, yang lebih akrab disebut ‘pete pete’ oleh warga Makassar, berhenti mendadak di depan saya. Sontak saya menarik rem tangan dan mengundurkan persenelan. Tanpa rasa bersalah, si supir pete pete baru menyalakan wesernya (lampu sein) dan meminggir perlahan ke sebelah kiri jalan.

Rasanya ingin memaki supir pete-pete itu di depan wajahnya, namun saya tidak cukup berani melakukan hal itu. Saya pun kembali melaju dengan motor butut saya, jantung masih berdebar kencang sepanjang perjalanan karena kejadian tadi. Saya hanya bisa terus menggerutu di dalam hati dan membayangkan bagaimana kiranya kalau tadi saya benar-benar menabrak pete-pete itu. Ah masalah!

Saya lama menjadi penumpang setia pete-pete dan saya memerhatikan hal yang menyebabkan pete-pete sering berhenti mendadak tidak lain adalah untuk mendapatkan penumpang di pinggir ataukah ingin menurunkan penumpang di pinggir jalan. Entahlah kalau ada hal lain yang membuatnya kaget dan berhenti mendadak seperti dapat telfon kalau istrinya mau melahirkan ataukah kedapatan selingkuh oleh istrinya (haha abaikan).

Pernah suatu waktu saya naik pete-pete dan mendapati penumpang meneriaki supir untuk berhenti tiba-tiba. Suaranya yang keras menggelegar tentu sangat mengagetkan supir yang tadinya sedang melaju dengan tenang dan seketika itu menginjak rem secara spontan. Di sini yang harus cerdas adalah penumpang bagaimana ia harus memperkirakan kapan dia akan turun dan kapan ia harus memberitahukan berhenti kepada sang supir.

Perjalanan ke kampus yang tidak mulus kembali harus saya alami saat menuju jalan pulang, kembali lagi saya harus berurusan dengan pete-pete.  Kali ini saya mengambil jalur aman dengan berada tidak terlalu di pinggir jalan raya dan juga tidak terlalu di tengah badan jalan untuk  mengantisipasi kejadian tadi berulang. Tapi tiba-tiba sebuah  pete-pete kembali mengambil jalur kiri yang sangat dekat dengan stang motor dan menerobos ke depan saya dengan cepat. Saya kaget sambil menginjakkan rem kaki dengan tersendat-sendat sambil mengurangi kecepatan.

Pengalaman buruk dengan pete pete juga dialami oleh Kak Ifa salah satu kakak kelas di Kelas Kepo. “Saya sering hampir tabrak pete-pete. Ada yang tiba-tiba berhenti, ada yang ambil jalur kiri tanpa menyalakan lampu sein dan ada juga yang menurunkan penumpang sembarangan. Saya sering istigfar setelah mengumpat dalam hati kalau ketemu supir pete-pete yang seperti ini. Jalanan Makassar memang keras dek, perempuan harus bisa bertahan” keluhnya.

Penyebab semrawutnya jalan raya di Makassar bukan hanya dilakukan oleh pete-pete saja tetapi kendaraan lain pun terkadang melakukan hal demikian. Pengguna jalan harus lebih bijak memperhatikan keselamatan dirinya dan orang lain disekitarnya.

Terima Kasih
Ditulis di Kafe Pojok, 14 April 2016
_wenwenmoury_



7 komentar:

  1. Yang bikin paling malas naik pete-pete itu kalau harus nunggu penumpang sampai full dulu. Mana panas lagi. #BoringMoment

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau adaji cewek cntikx...pasti betahji itu mukhsin menunggu toh?...haha

      Hapus
    2. Biar bagaimana cantiknya kalau buru-buru ki juga.

      Tapi... kalau jadian ka dipete-pete, mungkin betah mi.. Hahahaha

      Hapus
    3. Hahahah...😂😂😂

      Hapus
  2. dari dulu, naik pete-pete selalu menyenangkan buat saya. Tergantung buru-buru atau tidaknya sih. hihihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...ap lagi kalau dengar lagu favoritta di kak diatas pete2...serasa ndag mau turun.wkwkw

      Hapus

terima kasih sudah membaca:) silahkan membubuhkan kritikan pedas maupun kritikan yg membangun:)