GoriGorinaMoury

Sabtu, 23 April 2016

Tampaning Bukan Hanya Sekadar Batu Akik

Jalan setapak menuju Dusun Tampaning

Saya menyambangi Dusun Tampaning jauh sebelum demam batu akik. Tahun 2015, yang seketika itu mengangkat nama Tampaning dikenal khalayak luas di berbagai daerah, luar kota bahkan hingga ke mancanegara. Ketika browsing di internet pun, Dusun Tampaning yang kita temukan hanyalah mengenai seputar batu akik.

Tahun 2013 silam, tepatnya di Dusun Tampaning, Kabupaten Soppeng. Saat itu saya dan sahabat saya Ewind sedang melakukan penelitian skripsi dan menetap disana selama satu bulan lebih. Akses menuju ke Tampaning pun tidak kami lewati dengan mudah, perjalanan dari kantor Desa Patampanua  menuju ke Dusun Tampaning menempuh jarak sekitar 15 km dengan kemiringan yang tajam serta jalan yang belum tersentuh oleh aspal. Bebatuan menemani perjalanan kami menggunakan motor dengan bawaan yang tidak sedikit.

Carieer 80 kg yang saya bawa dari Makassar untuk persiapan satu bulan, harus ikut berboncengan di belakang saya. Ewind hanya membawa tas ransel dan juga tas pinggang kecil. Kami berboncengan menuju Dusun Tampaning.

Drama itu dimulai, ketika kami sadar sepanjang perjalanan menuju jalan bebatuan itu, kami terus menempuh tanjakan curam yang berkelok-kelok, sangat jarang kami mendapatkan jalan yang datar, bahkan ada yang memiliki tanjakan nyaris 90 derajat, terpaksa saya harus turun dari motor dan berjalan kaki melewati tanjakan.

Kami sempat beristrahat dan menikmati pemandangan yang cukup indah dari ketinggian, kanjeng Ewind sapaan akrab saya, menyarankan untuk berhenti sejenak beristirahat, saya tahu sangat melelahkan menempuh jarak yang tidak dekat dengan kondisi medan yang berat. Untung saja saat itu tidak hujan, saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya perjalanan kami itu.

Sesampainya di Dusun Tampaning, kami disambut baik dengan warga dan juga stakeholder setempat. Kami tinggal di rumah indo’ Aji, salah seorang kerabat Pak Desa yang hanya tinggal seorang diri di rumahnya. Usianya sekitar 70 tahun, tapi beliau masih sangat kuat dan tampak sehat, para tetangga indo’ Aji pun menyambut kedatangan kami dengan sangat baik, mereka bersedia membantu kami kapan saja.

“Engkah mato’ tu signal hape kuwedeh...tafi’nah mirifi biasa anging’e na mattama sms’e” saya fikir Indo’ sedang bercanda dengan mengatakan bahwa signal di sini ada tapi hanya ketika angin sedang bertiup kencang barulah sms akan masuk. Saya bergantian dengan Ewind mengecek signal, syukur-syukur jika ada sebatang namun tak bertahan lama kemudian hilang lagi.

Angin berhembus menggoyahkan pohon kemiri tepat di samping rumah Indo’ yang tumbuh besar menggemuruhkan atap seng rumah kayu yang kami tinggali. Bunyi nada sms terkirim dan beberapa deretan pesan di kotak masuk hp, membuat saya seperti mendapatkan nyawa kembali. Haha....ternyata Indo memang cool:D

Momen sholat magrib berjamaah menjadi sangat di nanti saat menjelang malam. Kak Hatang (penduduk asli), telah menyarankan kami untuk charge hp ataupun laptop di mesjid karena genset mesjid setiap harinya akan di nyalakan saat masuk waktu salat magrib, isya, subuh dan salat jumat saja. Saya, Ewind dan beberapa anak muda penduduk asli menjejerkan posisi gadget kami masing-masing di stok kontak yang tersedia.

Terkadang setelah salat magrib, kami pun rela menanti hingga masuk jadwal salat isya demi menunggu batere terisi dengan full. Maklum hiburan kami saat menjelang malam hanyalah pemutar musik, galeri foto (mengobati kerinduan) dan menunggu angin kencang agar sms kami terkirim.

Sebenarnya sudah ada beberapa rumah yang memiliki pembangkit listrik tenaga surya termasuk rumah Indo Aji sedangkan beberapa rumah lainnya masih banyak menggunakan lampu minyak. Namun hasil dari penampungan tenaga surya itu hanya mampu mencukupi penerangan di malam hari saja dan itu pun tidak maksimal karena terkadang kami merasakan penerangannya sangat redup sehingga kami tidak berani mengisi daya telpon selular kami di rumah Indo’Aji.

Mata pencaharian penduduk Dusun Tampaning hampir seluruhnya adalah petani, pendidikan mereka dan anak-anaknya dirasa cukup ketika telah tamat Sekolah Dasar (SD). Setelah tamat SD anak laki-laki membantu orang tuanya bekerja di kebun, sedangkan anak perempuan yang telah tamat SD akan siap untuk dinikahkan.

Mata pencaharian utama sebagai petani kemiri dan sampingan mencari madu hutan

Hanya beberapa orang tua yang memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik dan kesadaran akan pentingnya pendidikan sehingga mereka mampu menyekolahkan anaknya ke kota serta membiayai kos (tempat tinggal) anaknya selama menempuh pendidikan lanjutan.

Adapun sekolah dasar yang berada di Dusun Tampaning ini hanya merupakan kelas jauh. Filial atau kelas jauh merupakan kelas yang dibuka di luar sekolah induk diperuntukan untuk siswa-siswi yang tidak tertampung di sekolah tersebut baik karena keterbatasan kursi (ruang kelas) atau jarak tempat tinggal siswa-siswi yang jauh.

Sementara Guru yang biasanya datang mengajar hanya 2 kali seminggu menurut keterangan warga sekitar, ini di sebabkan lokasi tempat tinggal guru yang berada di luar dari Dusun Tampaning dan kesulitan jika harus tiap hari datang mengajar dengan menempuh perjalanan yang jauh dengan medan yang berat.

Ketika Ujian Nasional murid kelas jauh di Dusun Tampaning harus menyesuaikan diri dengan murid lainnya di kota dan melakukan ujian di sekolah induk, sedangkan sudah jelas dari segi fasilitas, pelajaran dan mental mereka selalu menjadi yang tertinggal.

Mereka adalah anak-anak yang selalu ceria, tiap pagi saya perhatikan dari atas rumah Indo’, jam stengah 7 mereka sudah lengkap berbondong-bondong dengan seragam dan tas di pundak masing-masing. Masih ada diantara mereka yang memakai baju pramuka di hari senin, memakai sandal dan memakai sepatu tanpa kaos kaki. 

Mereka tidak tahu apakah guru hari itu akan masuk mengajar ataupun tidak. Semua tampak ceria bercanda dan saling mengganggu satu sama lain dan berkumpul di pos ronda dekat dari sekolah mereka sambil menunggu kedatangan gurunya.

Saya melihat jam dinding sudah pukul 08.00 wita secangkir teh saya pagi itu sudah habis,  jadwal kegiatan saya sedang kosong, saya melihat mereka masih bermain menggunakan seragam dan menunggu guru yang tak kunjung datang.

Dengan bermodalkan mood yang sedang baik saya menghampiri mereka dan menyeru mereka untuk masuk kelas. Mereka dengan tampak malu-malu tetap mengikuti seruan saya. Saya melihat beberapa dari orang tua mereka memperhatikan dari kejauhan kedatangan saya mengusik anak-anak berseragam itu. Wajah mereka tampak heran namun tidak menampakkan penolakan.

Kelas mereka tidak terkunci, susunan bangku seperti biasa berjejeran menghadap papan tulis yang lengkap dengan kapur. Hari itu saya berencana memberikan mereka permainan dan menyelipkan beberapa pelajaran mengingat mereka tergabung dengan tingkat kelas yang berbeda-beda. Saya melihat tidak ada tanda-tanda kedatangan guru, saya bebas membuat mereka bermain hari ini. Mereka membantu saya menata bangku mereka menjadi bentuk U atau tapal kuda, tujuannya karena saya ingin bermain bersama mereka.

Setelah selesai mengatur bangku menjadi bentuk U saya memperkenalkan diri dengan percaya diri dan menagih mereka juga untuk memperkenalkan dirinya masing-masing. Walaupun masih malu-malu, dengan tertib mereka satu per satu menyebutkan nama lengkap, nama panggilan dan tingkat kelasnya, tak jarang di antara mereka yang memasukkan kepalanya di dalam laci meja sambil menyebutkan namanya karena masih terlalu malu.

Saya memulai permainan di kelas dengan mengoper pulpen satu sama lain sambil bernyanyi lagu kanak-kanak yang mereka tahu dan ketika saya mengatakan ‘stop’ mereka harus berhenti dan pemegang pulpen terakhir harus menerima hukuman yaitu membacaBahkan dari permainan itu saya mengetahui beberapa dari mereka ada yang telah duduk di kelas empat (4) dan kelas lima (5) tapi sama sekali belum mampu membaca dengan lancar. Kami menghabiskan waktu 2 jam saat itu dengan pelajaran membaca dan menulis.
foto perpisahan menjelang pulang ke Makassar
Hari-hari berikutnya, saat tidak ada tanda-tanda kedatangan guru, tiap pagi anak-anak itu datang kerumah Indo’ dengan panggilan mereka yang bersorak bersamaan, saat itu saya mengajak Ewind untuk ikut bermain bersama anak-anak, kami berencana mengajarkan mereka tata cara upacara dan gerak jalan. 
Walaupun di antara mereka masih kaku menjadi pemimpin upacara, ada juga yang belum percaya diri menjadi kelompok paduan suara dan tidak terlalu hafal lagu kebangsaan, namun mereka sangat antusias mempelajarinya.
foto perpisahan dengan Indo Aji dan anak-anak
Tampaning bukan hanya sebuah nama dari aksesoris batu akik yang di gemari, diburu dan akan redup ketika peminatnya telah bosan. Di sana masih ada banyak bongkahan batu berlian yang kelak akan membanggakan daerah bahkan bangsa. Mereka mungkin hanya memerlukan sedikit akses jalan yang jauh lebih memadai, karena pendidikan yang layak adalah hak mereka.


Ditulis di kamar, 20 April 2016wenwenmoury





2 komentar:

terima kasih sudah membaca:) silahkan membubuhkan kritikan pedas maupun kritikan yg membangun:)