GoriGorinaMoury

Selasa, 29 Maret 2016

HATI-HATI!!! SERIAL INDIA

Luar biasa...durasi film india semakin menggila di tv nasional!!!
tontonan sejuta ibu-ibu di indonesia memanjatkan rating film india semakin menjulang tinggi
seorang ibu rela berjam-jam menghabiskan waktu mereka di depan tv, bahkan tidak jarang dari mereka yang memiliki balita atau anak yang masih dibawah umur.

Balita maupun anak dibawah umur terpaksa harus ikut menonton serial india yg disajikan tersebut secara bersama-sama dengan orang tua mereka. Sedangkan kita ketahui dari segi kebiasaan, culture ( budaya) dan sisi religiusitas dari serial tersebut sangat jauh dari ciri Budaya Indonesia yang selama ini di junjung tinggi.

Bagi masyarakat dewasa yang sudah paham atau telah pandai memilah-milah sesuatu mungkin akan sah-sah saja untuk menjadi tontonan hiburan favorit mereka, tapi untuk perkembangan otak anak yang sedang tumbuh, tentu memungkinkan tontonan tersebut akan ditelan mentah-mentah dan ter-save di otak mereka dengan sangat rapi. Hal itu akan menjadi momok yang mengerikan bagi cikal bakal bangsa dimasa depan.

Orang tua bertanggung jawab akan hal ini.
Terutama untuk penerus masa depan bangsa.


Selasa, 29 Maret 2016
ditulis dikamar, sambil mendengar percakapan serial india diruang tengah.
# Ternyata mama'ku menonton india juga! 
#Untung anaknya sudah besar semua:'D


_wenwenmoury_

Senin, 21 Maret 2016

Secangkir Kopi Hitam

Panas
Secangkir kopi hitam
Sepotong kue cubit
Semerdu gitar sinar rembulan

Senyum merekah hiasi bibir
Lantunan syair tersipu malu
Benarkah kopi telah dingin?
Ataukah habis menyisakan ampas?

Matahari menyapa pagi
Saatnya bangun dari mimpi
Menyeduh kopi masing2. . .

#selamathabiskanmalam
_wenwenmoury_
22 maret 2016


Minggu, 20 Maret 2016

Petani Rumput Laut


_Indah_



Indah seperti Cinta
Awalnya kufikir bentuk terakhir dari cinta adalah menanti.
Tapi satu hal yg pasti, bentuk terakhir dari sebuah cinta adalah doa.
Segala doa yg terbaik untuk orang yg dicinta
Krn cinta tak mungkin melupa
Krn cinta tak mungkin membenci
Seberapa keraspun usaha itu

Cinta slalu tersemat didalam hati menjadi sebuah cerita yg slalu memiliki arti.

_Wenwenmoury_

Sabtu, 19 Maret 2016

_Tak Beranjak_

Semua masih terbingkai rapi disini
Disudut relung tanpa kepalsuan
Purnama pun mulai bosan
Melihatku masih terjaga menantimu

Jarak kan semakin memudar
disini ku masih tak beranjak
Direlung yg tak mampu tersenyum
Pergilah. . .jgn kesini jika itu terlalu perih

_Wenwenmoury_
01.05 wita ditulis dikamar
Sabtu, 19 maret 2016



Rabu, 16 Maret 2016

SEPIRING SOTO BANJAR


Euforia wisuda dikampus ayam jago rasanya terlalu cepat berlalu, masih jelas diingatan saya toga kokoh yang berdiri mantap dikepala saya,  ditemani segerombol keluarga yang turut bersuka cita menyambut gelar baru yang saya peroleh dikampus merah yang orang tua saya selalu banggakan. Sekejap saya terbangun dari ingatan 2 tahun lalu itu, ternyata waktu begitu gesit berlalu. Bekerja dengan kontrak 11 bulan sebagai pekerja lepas (freelance) di sebuah lembaga penelitian sudah selesai beberapa bulan yang lalu dan sekarang saya menopang gelar baru sebagai pengangguran.

Mencari kerja seperti momok baru yang mendebarkan melebihi ujian sidang sewaktu dikampus, hingga tiap malam sebelum menjelang tidur seperti layaknya membaca doa sebelum tidur, kini kumenambahkan sebuah ritual baru sebelum tidur, yaitu tahap pertama mengecek websiteloker tiap malam dan mengirim beberapa cv dan resume, tahap kedua membuka facebook sekedar menjadi stalker mengerikan (mengecek satu per satu keberhasilan teman-teman kampus yang sudah bekerja diperusahaan besar atau yang telah lanjut s2 di luar negeri) memang sangat mengerikan untuk diriku yang belum menjadi apa-apa ini, tahap ketiga baca doa yang sangat panjang disertai harapan-harapan dan tahap kelima tidur (lebih jelasnya sih mencoba tidur).

Hari ini kota daya, sudiang dan sekitarnya terlihat sangat cerah, setiap pagi ku tidak pernah luput untuk mengecek handphone apakah dalam keadaaan stand by atau tidak, saya memastikan handphone dalam keadaaan aktif  ketika perusahaan akan memanggil saya untuk test ataupun interview. Hingga pukul 11.30 WITA telfon berbunyi, setelah kupastikan ternyata telfon dari salah seorang sahabatku sejak SMA hingga sekarang, namanya Hajar.

Hari ini hajar memintaku untuk menemaninya kedokter gigi yang berada di Jl. Kandea, saya pun mengiyakan ajakannya, karena terlalu bosan sehari-hari menghabiskan waktu dirumah menunggu panggilan yang tidak tau kapan datangnya.
Waktu menunjukkan pukul 12.00 WITA, kami pun berangkat bersama menggunakan motor berboncengan menyusuri jalan Daya-Perintis Kemerdekaan serta Urip Sumoharjo, ketika melintas di flyover hajar menambah kecepatan motornya, saya yang dibonceng pun sangat menikmati semilir angin walau dibawah terik matahari, rasanya ‘sedikit kepenatan’ yang dirasakan seorang pengangguran seperti saya ini terbang dibawa angin begitu saja.

Pukul 12.45 WITA. Sesampainya di tempat praktek dokter gigi, hajar yang katanya hari ini jahitan gusi digigi gerahamnya akan dibuka langsung melejit menuju dokternya, saya pun menunggu dengan sabar di ruang tunggu depan ruangannya, beberapa menit berlalu sesekali saya melakukan selfi dan mengecek bbm serta medsos lainnya mengisi waktu menunggu. Beberapa jam berlalu, Hajar pun keluar dengan wajah tersenyum karena sudah merasa legah dengan giginya.

Waktu menujukkan  Pukul 14.05 WITA matahari semakin terik, kami pun memutuskan untuk ketempat es krim favorit kami  “Papabon Ice Cream” tepatnya terletak di Jl.Gunung Nona. Hajar seakan lupa kalau giginya baru selesai diobrak abrik. Saya memesan waffle dengan es krim chocolate mix blackoreo sedangkan hajar memilih roti isi es krim durian mix greentea, rasanya terik matahari terbayarkan dengan segopoh es krim lezat itu. Kami pun menghabiskan cerita banyak sekali disana, sesekali mengungkit pekerjaan, teman sekolah, bahkan mengenai percintaan yang timing-nya sangat tidak pas untuk dibahas disiang bolong.haha

Setelah itu kami melanjutkan untuk mengisi perut dengan makanan yang lebih berat, hajar mengajakku kesebuah tempat kuliner makassar di jl.Balaikota dekat kantor pos, dengan semangat 45 dia mengatakan “mbah’ee…pi makan soto banjar… ada tempakku enak sekalia  do’” saya pun merespon dengan semangat “ayo’miii”dan itu pertama kalinya saya kesana.

Tempatnya tidak besar ataupun luas mungkin hanya sekitar 6x6 meter, jejeran meja kayu dan kursi kayu tertata rapi dan tempat itu walau kecil tapi ternyata tidak sepi pengunjung, firasatku mengatakan makanannya pasti sudah tidak diragukan lagi menu disini tidak bervarian hanya menyajikan "soto banjar to' ", beberapa orang karyawan kantor yg sedang istirahat memenuhi warung yang tidak begitu luas itu, saya fikir tempatnya sudah full, namun ternyata ada sisa bangku kosong untuk dua orang, seakan kedua bangku ini memang menunggu kedatangan kami disana, hehe.
Pesanan dua piring soto banjarpun datang dengan sigap, kami yang sudah duduk manispun menyambut dan menata soto banjar itu kedepan kami masing-masing, yang pertama kali saya perhatikan dari soto banjar ini adalah telurnya, di soto banjar ini terdapat dua bola kuning telur rebus setengah matang, kelihatannya enak, tapi dibenak saya bertanya-tanya kemana perginya putih telurnya? kenapa tidak sekalian 2 telur rebus yg utuh saja? Tapi sekali lagi itu tidak penting, saya mulai meraciknya dengan perasan jeruk nipis, kecap dan lombok tumis (jenis olahan cabe tradisional favoritku) saya sudah tidak sabar mencicipi kuahnya, setelah selesai meracik, satu sendok pun mendarat di mulut menuju tenggorokanku…dan seketika mataku terbelalak (seperti iklan cabe) hoowwaaaahh….enaknyaa luar biasa dan kucoba mengkombinasikan kuning telur tadi dengan kuah soto banjar dan rasanya “seeempurnaaaaaa” (nyanyi ala andra n the backbone). Setelah sepiring soto banjar itu bersih terlahap, disitu pula saya mendapatkan jawabannya kenapa putih telur tidak dilibatkan disoto banjar ini.

#Putih telur itu saya ibaratkan diriku…Mungkin belum takdirnya, seperti saya yg masih setia menunggu panggilan kerja di tempat lain.
Sekian dan terima kasih.


Ditulis dikamar;Rabu, 16 Maret 2016


_wenwenmoury_

Ku ingin menjadi pemain bukan hanya penonton




                                                      Ini penyebab keinginanku membuat Blog dan Menulis

Banyak cerita yang ingin saya bagi dengan teman-temanku ataupun keluargaku, tapi kutakut mereka akan bosan mendengarkan ceritaku yang akan berjam-jam hanya karena cara penyampaianku yang terkadang memang aneh dan sangat tidak menarik. Kemarin saat membuka facebook, saya sempat melihat postingan salah satu teman di facebook mengenai penerimaan peserta kelas menulis kepo angkatan ketiga http://bit.ly/kelaskepo3.

Saat itu saya mulai melihatnya secara detail dan membaca beberapa blog dari beberapa angkatan di “kelas kepo” itu, rasanya keinginan saya untuk segera menulis begitu menggelora, terlalu banyak yang ingin saya tuangkan. Tujuan saya adalah ingin ikut bergabung kelas menulis itu, saya ingin mengisi waktu luang saya dengan sesuatu yg bermanfaat, mendapatkan pengalaman, bertemu orang-orang baru dan yang paling penting adalah ilmu untuk menulis dengan baik.

Hal yang pertama segera saya buat adalah blog, karena itu merupakan syarat utama yang harus dimiliki untuk bergabung di “kelas kepo”. Setelah saya buka email, ternyata sebelumnya saya sudah pernah membuat blog ini dua tahun yang lalu, tapi parahnya adalah saya tidak pernah mengelola blog itu sama sekali dan tidak pernah memposting apapun didalamnya, saya pun mulai mengelola akun blog ini.

Ujian pertama yang saya peroleh adalah ternyata mengelola akun blog itu tidak semudah yang saya bayangkan, sayapun kembali memutar otak bagaimana caranya membuat blog saya ini seperti yang orang-orang miliki?. Seharian mengutak-atik Blog, bolak balik mencari cara mengelola blog di mbah google dan akhirnya membuat kepalaku mulai pusing dan memikirkan kalau batas pendaftaran online  untuk “kelas kepo” tinggal 4 hari lagi, sedangkan syarat selanjutnya adalah saya harus memiliki blog yang berusia 3 bulan atau telah memuat minimal 10 postingan di blog tersebut. Saya mulai mengabaikan tampilan blog itu walaupun saya tau blog itu masih sangat kacau tampilannya.

Saya mulai fokus untuk menulis apapun itu yang bisa saya posting di blog, asalkan itu adalah karya saya sendiri (bukan hasil copas). Saya memulainya dengan menulis puisi karena salah satu hobby saya sejak SMA adalah membuat puisi, namun entah kenapa sejak kuliah kegiatan itu tidak pernah lagi saya lakukan. Saya pun mulai menulis beberapa puisi, kadang perasaan lelah menatap laptop sambil mencari inspirasi membuatku kembali terbaring dibantal “patrickku” yang besarnya melebihi badanku, sesekali membuka medsos mencari hiburan dan tertidur.

Senin, 14 maret 2016. Saya kembali mengingat bahwa pendaftaran online “kelas kepo” tinggal beberapa hari lagi sedangkan saya baru selesai memasukkan beberapa postingan, rasa malas menyelimuti dan kembali terlena dengan medsos, tapi setelah bosan menatap medsos saya kembali membuka laptop dan bertekad meneruskan beberapa tulisan lagi. Huft semangat....

Rabu, 16 Maret 2016 .
Hari ini saya telah merampungkan beberapa puisi dan mulai menulis sebuah tulisan bertemakan “Makassar” sebenarnya saya tidak terlalu tau harus menulis apa tentang makassar. Bahasa makassar saja saya tidak tau sama sekali padahal saya lahir dan tumbuh besar dimakassar, kali ini saya benar-benar buntu...ada lagi tersirat perasaan malas dan ingin berhenti saja melanjutkan tulisan ini. Tapi setelah menimbang lagi, saya tidak ingin menyerah sampai saya benar- benar telah melakukan semaksimal mungkin. Go wenwen...rampungkan tulisan jelekmu ini, semoga kedepan saya bisa lebih berkembang.
Tujuan pertama saya jika saya diterima di “kelas kepo” ini adalah belajar membuat BLOG dengan hikmat hingga jadi blogger profesional dan yang paling penting adalah belajar menulis dengan benar. Hihihih


Ditulis dikamar, bersama patrick “si bantal yg setia menopangku jika kulelah dan tumbang”
Rabu, 16 Maret 2016

_wenwenmoury_

Keluar dan temukan sesuatu

sosok perempuan tangguh yang tetap setia mengurus
 suaminya yang sudah beberapa tahun lumpuh

Sedikit berbagi pengalaman yang saya dapatkan  selama sebelas bulan berprofesi sebagai pekerja lepas (freelance). Selama sebelas bulan, saya merasa seperti kuliah kembali di universitas masyarakat dan menemukan banyak sekali pelajaran dan hal yang tidak pernah saya fikirkan sama sekali, hal yang mungkin tidak akan pernah saya tau bahkan tidak akan saya pedulikan jika tidak saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri. Semua itu membuat tangan saya gatal ingin belajar menulis dan menuangkan semua keresahan, pengalaman bahkan pelajaran yang saya dapatkan, saya ingin semua orang dapat keluar dan menemukan sesuatu juga, walau dalam wujud tulisan ini.

Cerita ini berasal dari ujung paling selatan sulawesi, disana ada sebuah rumah tua yang dihuni oleh sepasang suami istri yg sudah lanjut usia, umur nenek ini sekitar 70 tahun pendengarannya sudah mulai berkurang namun ia masih bersedia saya wawancarai, suaminya mengalami lumpuh dan memiliki penyakit komplikasi, salah satu penyakit yang dideritanya adalah penyakit gula (diabetes).

Dulu pekerjaan suaminya adalah sebagai nelayan, tapi setelah suaminya mulai menderita sakit,  mata pencaharin rumah tangga inipun terhenti dan sang nenek mulai berusaha bekerja lagi sebagai pengikat rumput laut, tetangganya yang memiliki usaha ini mempekerjakan beberapa ibu rumah tangga untuk mengikat rumput laut dan upah yang diperoleh pun tidak seberapa.

Perhatikan foto diatas, tepat dibelakang saya itu adalah laut dan rumah yang terbangun pas dibelakang nenek itu adalah rumahnya, sedangkan dulunya rumah yg terbangun tepat disebelah rumahnya itu dulunya tanah milik nenek ini juga, tapi karena jika air laut pasang, air terkadang masuk kerumah nenek hingga setinggi pinggang orang dewasa, hal tersebut membuat sang nenek dengan terpaksa harus menjual setengah dari tanahnya, uang dari hasil jual tanahnya tersebut di manfaatkan untuk meninggikan pondasi rumahnya dan dinding yang sebelumnya yang terbuat dari papan sudah diganti semen dan bata yang hanya dibagian belakang rumahnya saja, katanya supaya kalau air laut pasang, mereka tidak harus mengungsi kerumah kerabat lagi. Hal tersebut membuat saya kagum sama nenek ini, ia memiliki   prinsip yang kuat, walaupun dalam kesusahan, ia masih berfikir untuk tidak ingin menyusahkan orang lain. Saya pribadi merasa malu, merasa susah sedikit tapi banyak mengeluh dan berharap bantuan orang lain :(

cerita sang nenek tidak sampai disitu, setelah saya mengukur tekanan darah nenek ini saya pun mengukur Hb dan semua alhamdulillah normal, saya pun sempat menanyakan tadi nenek makan apa,? nenek itu mengatakan kalau ia makan nasi dan sayur kelor yang ia petik depan rumahnya, setelah saya selesai mengukur tensi dan Hb sang nenek, saya pun meminta untuk dipertemukan dengan sang kakek saya juga berniat untuk mengukur tekanan darah sang kakek, saya pun dipersilahkan untuk masuk kedalam rumah bertemu sang kakek dan seketika saya sangat terkejut dengan pemandangan didalam rumah sang nenek, hati saya seperti sangat teriris dan menangis, betapa mulia kedua orang tua lanjut usia ini masih melebarkan senyumnya untuk menyambut kedatanganku.


Luasnya kira-kira 10x5 meter, didalam rumah tidak ada ruangan atau sekat sama sekali, lantaipun hanya sedikit bagian yg disemen katanya itupun semen yang digunakan dari sisa membuat pondasi rumah, lantai yg lain hanya tanah yang agak becek didalam rumah, didalam hampir setengah bagian rumah nenek ini dipenuhi dengan barang-barang bekas melaut yg menumpuk seperti botol-botol bekas untuk pembibitan rumputlaut yang sudah lama tidak terpakai dan beberapa perkakas melaut milik sang kakek dulu yang tertumpuk menjadi satu , tempat tidur sang kakek terbuat seperti meja kayu yang dilapisi sarung. disebelahnya ada sebuah tumpukan piring, gelas plastik, wajan kecil dan panci, juga beberapa tumpukan kayu bakar serta dapok (tungku) yang digunakan untuk nenek memasak sehari-hari. Saya sempat bertanya apakah tidak ada bantuan dari pemerintah? katanya ia sudah pernah beberapa kali didata oleh petugas untuk dilakukan bedah rumah oleh pemerintah tapi sudah bertahun tahun ditunggu tidak ada sama sekali, sampai ia akhirnya menjual sebagian tanahnya untuk merenovasi sedikit rumahnya yang dulunya lebih parah.


setelah saya selesai mewawancarai sang nenek dan mengecek tekanan darah sang kakek, saya pun menyelesaikan tugas saya dan memberikan selembar amplop amanah dari kantor untuk keluarga yang selesai diwawancarai dan sang nenekpun bertanya "apa anne nak?" (ini apa nak?) saya pun berkata;"doe' nek...risareangki pole kantoro'kuu" (ini uang untuk nenek, dikasih dari kantorku) nenek langsung menyahut "ou,,,tarima kasi' nak" dan seketika itu dia membuka amplop itu dan mengambil selembar uang 50ribu didalamnya, belum juga saya menginjakkan kaki untuk keluar dan pamit, ia sudah keluar terburu-buru sambil mengencangkan ikatan sarung dipinggangnya, sayapun langsung segera menanyakan ia mau kemana kenapa sangat terburu- buru dan ia hanya menjawab "erokka pi ammalli biskui nak, injo kakeknu kemaring inji erokki makang biskui'" (saya mau pergi beli biskuit nak, kakekmu itu dari kemarin ingin sekali makan biskuit). Seketika itu saya tidak bisa lagi berbicara apa-apa, saya hanya melihat nenek itu semakin menjauh dari tatapanku berjalan menyeberangi jalan raya menuju warung seberang jalan.


ditulis dikamar, Rabu 16 Maret 2016

_wenwenmoury_






_Pelangiku_

Bahkan esok pagi kuakan membujuk mentari,
agar kudapat melepas rindu yang teramat dalam ini
kepada rintik hujan yang menyambut pagiku
kuhanya ingin melihatmu walau samar....Pelangiku


ditulis dikamar; Rabu, 16 Maret 2016
_wenwenmoury_

_Sajak Rindu_

Tak akan ku ganggu sepinya malam
Untuk memeriahkan malam didiriku
Karena kutahu malam akan menyambut fajar
Dengan kenangan yang tak terbantahkan

Sajakku bukan pelipur laraku
bukan pula bahasa kalbuku yg multitafsir
sajakku adalah air mata yang selalu ingin berbicara
namun pasti itu tak mungkin

caraku terlalu sederhana mencintaimu
dan terlalu naif merindukanmu
melalui angin dan bayangmu
kuharap kau merasakan setiap angin yg kuhembuskan

ditulis dikamar, 16 Maret 2016

_wenwenmoury_

Senin, 14 Maret 2016

_Jadikan Aku Kasihmu_



Kusematkan namamu didalam doaku
Ku ikrarkan seluruh hatiku untuk takdirku
Kutak ingin menggugat Tuhan dengan merengekkan namamu
Namun kuharap takdirku dan inginku adalah nyata

Jadikan aku kasihmu dengan jalan yg ridhoi-Nya

_Tawa Kecil_


 Tawa kecil kalian membuatku merinding
Membuatku ingin segera melompat di kerumunan tawa kalian
Kalian yg memperlihatkan senyum tulus
Bahkan tawa yang tidak dibuat-buat

Tawa kecil kalian membuatku merinding
Lagi-lagi ku terkagum kagum dengan tawa itu
Saya yakin itu bukan tawa palsu yg setiap hari kulihat di kotaku
Saya yakin kalian adalah manusia asli

Tarik aku kedunia kalian
Agar ku bisa ikut tertawa bersama kalian
Ajari aku memandang dunia ini dengan benar
Agar ku tak keliru lagi melangkah


di tulis pada Sabtu, 12 Maret 2016
_Wenwenmoury_

_Segera Terlelap_


Yang istimewa dari malam adalah
keinginanku untuk segera terlelap
Karena malam terkadang usil
Ia selalu bersekongkol dengan kenangan

Tak ada alasan tuk melupa
Bagaimana bisa jika terlalu indah
Kurasa ego dan gengsi juga besengkongkol
Mereka selalu hebat hingga menjadi pemenang

Tak ada alasan lagi ku temani malam tuk menyambut fajar
Menghabiskan cerita di balik kabel yg tercharger
Kini kuharus segera terlelap untuk mimpi baru
Untuk  menyambut matahari esok yang lebih hangat



 ditulis pada Sabtu, 12 Maret 2016

_Wenwenmoury_

Sabtu, 12 Maret 2016

_Sebagian_


Kuterlalu keras bertarung dengan ego
Bahkan ku bertaruh dengan waktu
Ku berjalan dan kadang kuberlari tak tentu arah
Hingga kusadar kita terpisah terlalu lama

Masihkah kau tanya bahagiaku?
Pernahkah kau lihat apa yg kau bawa pergi?
Bukan hanya separuh hatiku tapi seluruhnya
Yg kau tinggalkan hanya kehampaan dalam relung hati

Pulanglah. . .
Paling tidak kembalikan hatiku sebagian


                                                                                     di tulis pada Jumat, 11 Maret 2016
                                                                                 _wenwenmoury_



_ Pengangguran _


Tak ada kata siap tuk dewasa
jika boleh memilih, inginku hanya menjadi bayi
yang menggemaskan, bermain dan tertawa
jika tangis memecah, itupun bukan hatiku yang terluka


adakah yang mampu membujuk Tuhan?

membantuku agar kembali menjadi bayi?
tak ada kata rayuan atau kata pujangga yang kumiliki
kuhanya teramat bosan dengan hidupku


tak ada kata siap tuk dewasa

mengantri menyodorkan ijazah
menanti panggilan penerimaan jasa
menyadari telah setahun tak terasa


Pengangguran

adakah lebih membosankan dari pada kata itu?
terkadang kata itu membuat minder
kadang pula menciptakan malu yg tak terbendung lagi
setahun menjadi penonton kesuksesan di media sosial


kutarik kumpulan buku yg telah berdebu

ternyata terlalu lama waktu kujadikan abu
tak ada kata siap tuk dewasa
ku hanya sedikit terlambat tuk menyiapkan


ditulis pada 11 Maret 2016
-wenwenmoury-