Euforia wisuda dikampus ayam jago rasanya
terlalu cepat berlalu, masih jelas diingatan saya toga kokoh yang berdiri
mantap dikepala saya, ditemani
segerombol keluarga yang turut bersuka cita menyambut gelar baru yang saya
peroleh dikampus merah yang orang tua saya selalu banggakan. Sekejap saya terbangun
dari ingatan 2 tahun lalu itu, ternyata waktu begitu gesit berlalu. Bekerja
dengan kontrak 11 bulan sebagai pekerja lepas (freelance) di sebuah lembaga penelitian
sudah selesai beberapa bulan yang lalu dan sekarang saya menopang gelar baru
sebagai pengangguran.
Mencari kerja seperti momok baru yang
mendebarkan melebihi ujian sidang sewaktu dikampus, hingga tiap malam sebelum menjelang
tidur seperti layaknya membaca doa sebelum tidur, kini kumenambahkan sebuah
ritual baru sebelum tidur, yaitu tahap pertama mengecek websiteloker tiap malam dan mengirim
beberapa cv dan resume, tahap kedua membuka facebook sekedar menjadi stalker mengerikan (mengecek satu per
satu keberhasilan teman-teman kampus yang sudah bekerja diperusahaan besar atau
yang telah lanjut s2 di luar negeri) memang sangat mengerikan untuk diriku yang
belum menjadi apa-apa ini, tahap ketiga baca doa yang sangat
panjang disertai harapan-harapan dan tahap kelima tidur (lebih jelasnya sih mencoba tidur).
Hari ini kota daya, sudiang dan sekitarnya terlihat
sangat cerah, setiap pagi ku tidak pernah luput untuk mengecek handphone apakah dalam keadaaan stand by atau tidak, saya memastikan handphone dalam keadaaan aktif ketika perusahaan akan memanggil saya untuk
test ataupun interview. Hingga pukul 11.30 WITA telfon berbunyi, setelah
kupastikan ternyata telfon dari salah seorang sahabatku sejak SMA hingga
sekarang, namanya Hajar.
Hari ini hajar memintaku untuk menemaninya
kedokter gigi yang berada di Jl. Kandea, saya pun mengiyakan ajakannya, karena
terlalu bosan sehari-hari menghabiskan waktu dirumah menunggu panggilan yang
tidak tau kapan datangnya.
Waktu menunjukkan pukul 12.00 WITA, kami pun
berangkat bersama menggunakan motor berboncengan menyusuri jalan Daya-Perintis
Kemerdekaan serta Urip Sumoharjo, ketika melintas di flyover hajar menambah kecepatan motornya, saya yang dibonceng pun
sangat menikmati semilir angin walau dibawah terik matahari, rasanya ‘sedikit
kepenatan’ yang dirasakan seorang pengangguran seperti saya ini terbang dibawa
angin begitu saja.
Pukul 12.45 WITA. Sesampainya di tempat
praktek dokter gigi, hajar yang katanya hari ini jahitan gusi digigi gerahamnya
akan dibuka langsung melejit menuju dokternya, saya pun menunggu dengan sabar
di ruang tunggu depan ruangannya, beberapa menit berlalu sesekali saya
melakukan selfi dan mengecek bbm serta
medsos lainnya mengisi waktu menunggu. Beberapa jam berlalu, Hajar pun keluar
dengan wajah tersenyum karena sudah merasa legah dengan giginya.
Waktu menujukkan Pukul 14.05 WITA matahari semakin terik, kami
pun memutuskan untuk ketempat es krim favorit kami “Papabon Ice Cream” tepatnya terletak di Jl.Gunung Nona. Hajar seakan lupa kalau giginya baru selesai diobrak abrik. Saya
memesan waffle dengan es krim chocolate mix blackoreo sedangkan hajar memilih roti
isi es krim durian mix greentea, rasanya terik matahari terbayarkan dengan
segopoh es krim lezat itu. Kami pun menghabiskan cerita banyak sekali disana,
sesekali mengungkit pekerjaan, teman sekolah, bahkan mengenai percintaan yang timing-nya sangat tidak pas untuk
dibahas disiang bolong.haha
Setelah itu kami melanjutkan untuk mengisi
perut dengan makanan yang lebih berat, hajar mengajakku kesebuah tempat kuliner
makassar di jl.Balaikota dekat kantor pos, dengan semangat 45 dia mengatakan “mbah’ee…pi makan soto banjar… ada tempakku
enak sekalia do’” saya pun merespon
dengan semangat “ayo’miii”dan itu
pertama kalinya saya kesana.
Tempatnya tidak besar ataupun luas mungkin
hanya sekitar 6x6 meter, jejeran meja kayu dan kursi kayu tertata rapi dan
tempat itu walau kecil tapi ternyata tidak sepi pengunjung, firasatku
mengatakan makanannya pasti sudah tidak diragukan lagi menu disini tidak bervarian hanya menyajikan "soto banjar to' ", beberapa orang karyawan
kantor yg sedang istirahat memenuhi warung yang tidak begitu luas itu, saya fikir tempatnya sudah full, namun
ternyata ada sisa bangku kosong untuk dua orang, seakan kedua bangku ini memang
menunggu kedatangan kami disana, hehe.
Pesanan dua piring soto banjarpun datang
dengan sigap, kami yang sudah duduk manispun menyambut dan menata soto banjar
itu kedepan kami masing-masing, yang pertama kali saya perhatikan dari soto
banjar ini adalah telurnya, di soto banjar ini terdapat dua bola kuning telur
rebus setengah matang, kelihatannya enak, tapi dibenak saya bertanya-tanya
kemana perginya putih telurnya? kenapa tidak sekalian 2 telur rebus yg utuh
saja? Tapi sekali lagi itu tidak penting, saya mulai meraciknya dengan perasan
jeruk nipis, kecap dan lombok tumis (jenis olahan cabe tradisional favoritku) saya
sudah tidak sabar mencicipi kuahnya, setelah selesai meracik, satu sendok pun mendarat
di mulut menuju tenggorokanku…dan seketika mataku terbelalak (seperti iklan
cabe) hoowwaaaahh….enaknyaa luar biasa dan kucoba mengkombinasikan kuning telur
tadi dengan kuah soto banjar dan rasanya “seeempurnaaaaaa”
(nyanyi ala andra n the backbone). Setelah sepiring soto banjar itu bersih terlahap,
disitu pula saya mendapatkan jawabannya kenapa putih telur tidak dilibatkan
disoto banjar ini.
#Putih telur itu saya ibaratkan
diriku…Mungkin belum takdirnya, seperti saya yg masih setia menunggu panggilan
kerja di tempat lain.
Sekian dan terima kasih.
Ditulis
dikamar;Rabu, 16 Maret 2016
_wenwenmoury_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih sudah membaca:) silahkan membubuhkan kritikan pedas maupun kritikan yg membangun:)