GoriGorinaMoury

Rabu, 16 Maret 2016

SEPIRING SOTO BANJAR


Euforia wisuda dikampus ayam jago rasanya terlalu cepat berlalu, masih jelas diingatan saya toga kokoh yang berdiri mantap dikepala saya,  ditemani segerombol keluarga yang turut bersuka cita menyambut gelar baru yang saya peroleh dikampus merah yang orang tua saya selalu banggakan. Sekejap saya terbangun dari ingatan 2 tahun lalu itu, ternyata waktu begitu gesit berlalu. Bekerja dengan kontrak 11 bulan sebagai pekerja lepas (freelance) di sebuah lembaga penelitian sudah selesai beberapa bulan yang lalu dan sekarang saya menopang gelar baru sebagai pengangguran.

Mencari kerja seperti momok baru yang mendebarkan melebihi ujian sidang sewaktu dikampus, hingga tiap malam sebelum menjelang tidur seperti layaknya membaca doa sebelum tidur, kini kumenambahkan sebuah ritual baru sebelum tidur, yaitu tahap pertama mengecek websiteloker tiap malam dan mengirim beberapa cv dan resume, tahap kedua membuka facebook sekedar menjadi stalker mengerikan (mengecek satu per satu keberhasilan teman-teman kampus yang sudah bekerja diperusahaan besar atau yang telah lanjut s2 di luar negeri) memang sangat mengerikan untuk diriku yang belum menjadi apa-apa ini, tahap ketiga baca doa yang sangat panjang disertai harapan-harapan dan tahap kelima tidur (lebih jelasnya sih mencoba tidur).

Hari ini kota daya, sudiang dan sekitarnya terlihat sangat cerah, setiap pagi ku tidak pernah luput untuk mengecek handphone apakah dalam keadaaan stand by atau tidak, saya memastikan handphone dalam keadaaan aktif  ketika perusahaan akan memanggil saya untuk test ataupun interview. Hingga pukul 11.30 WITA telfon berbunyi, setelah kupastikan ternyata telfon dari salah seorang sahabatku sejak SMA hingga sekarang, namanya Hajar.

Hari ini hajar memintaku untuk menemaninya kedokter gigi yang berada di Jl. Kandea, saya pun mengiyakan ajakannya, karena terlalu bosan sehari-hari menghabiskan waktu dirumah menunggu panggilan yang tidak tau kapan datangnya.
Waktu menunjukkan pukul 12.00 WITA, kami pun berangkat bersama menggunakan motor berboncengan menyusuri jalan Daya-Perintis Kemerdekaan serta Urip Sumoharjo, ketika melintas di flyover hajar menambah kecepatan motornya, saya yang dibonceng pun sangat menikmati semilir angin walau dibawah terik matahari, rasanya ‘sedikit kepenatan’ yang dirasakan seorang pengangguran seperti saya ini terbang dibawa angin begitu saja.

Pukul 12.45 WITA. Sesampainya di tempat praktek dokter gigi, hajar yang katanya hari ini jahitan gusi digigi gerahamnya akan dibuka langsung melejit menuju dokternya, saya pun menunggu dengan sabar di ruang tunggu depan ruangannya, beberapa menit berlalu sesekali saya melakukan selfi dan mengecek bbm serta medsos lainnya mengisi waktu menunggu. Beberapa jam berlalu, Hajar pun keluar dengan wajah tersenyum karena sudah merasa legah dengan giginya.

Waktu menujukkan  Pukul 14.05 WITA matahari semakin terik, kami pun memutuskan untuk ketempat es krim favorit kami  “Papabon Ice Cream” tepatnya terletak di Jl.Gunung Nona. Hajar seakan lupa kalau giginya baru selesai diobrak abrik. Saya memesan waffle dengan es krim chocolate mix blackoreo sedangkan hajar memilih roti isi es krim durian mix greentea, rasanya terik matahari terbayarkan dengan segopoh es krim lezat itu. Kami pun menghabiskan cerita banyak sekali disana, sesekali mengungkit pekerjaan, teman sekolah, bahkan mengenai percintaan yang timing-nya sangat tidak pas untuk dibahas disiang bolong.haha

Setelah itu kami melanjutkan untuk mengisi perut dengan makanan yang lebih berat, hajar mengajakku kesebuah tempat kuliner makassar di jl.Balaikota dekat kantor pos, dengan semangat 45 dia mengatakan “mbah’ee…pi makan soto banjar… ada tempakku enak sekalia  do’” saya pun merespon dengan semangat “ayo’miii”dan itu pertama kalinya saya kesana.

Tempatnya tidak besar ataupun luas mungkin hanya sekitar 6x6 meter, jejeran meja kayu dan kursi kayu tertata rapi dan tempat itu walau kecil tapi ternyata tidak sepi pengunjung, firasatku mengatakan makanannya pasti sudah tidak diragukan lagi menu disini tidak bervarian hanya menyajikan "soto banjar to' ", beberapa orang karyawan kantor yg sedang istirahat memenuhi warung yang tidak begitu luas itu, saya fikir tempatnya sudah full, namun ternyata ada sisa bangku kosong untuk dua orang, seakan kedua bangku ini memang menunggu kedatangan kami disana, hehe.
Pesanan dua piring soto banjarpun datang dengan sigap, kami yang sudah duduk manispun menyambut dan menata soto banjar itu kedepan kami masing-masing, yang pertama kali saya perhatikan dari soto banjar ini adalah telurnya, di soto banjar ini terdapat dua bola kuning telur rebus setengah matang, kelihatannya enak, tapi dibenak saya bertanya-tanya kemana perginya putih telurnya? kenapa tidak sekalian 2 telur rebus yg utuh saja? Tapi sekali lagi itu tidak penting, saya mulai meraciknya dengan perasan jeruk nipis, kecap dan lombok tumis (jenis olahan cabe tradisional favoritku) saya sudah tidak sabar mencicipi kuahnya, setelah selesai meracik, satu sendok pun mendarat di mulut menuju tenggorokanku…dan seketika mataku terbelalak (seperti iklan cabe) hoowwaaaahh….enaknyaa luar biasa dan kucoba mengkombinasikan kuning telur tadi dengan kuah soto banjar dan rasanya “seeempurnaaaaaa” (nyanyi ala andra n the backbone). Setelah sepiring soto banjar itu bersih terlahap, disitu pula saya mendapatkan jawabannya kenapa putih telur tidak dilibatkan disoto banjar ini.

#Putih telur itu saya ibaratkan diriku…Mungkin belum takdirnya, seperti saya yg masih setia menunggu panggilan kerja di tempat lain.
Sekian dan terima kasih.


Ditulis dikamar;Rabu, 16 Maret 2016


_wenwenmoury_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih sudah membaca:) silahkan membubuhkan kritikan pedas maupun kritikan yg membangun:)