GoriGorinaMoury

Rabu, 16 Maret 2016

Keluar dan temukan sesuatu

sosok perempuan tangguh yang tetap setia mengurus
 suaminya yang sudah beberapa tahun lumpuh

Sedikit berbagi pengalaman yang saya dapatkan  selama sebelas bulan berprofesi sebagai pekerja lepas (freelance). Selama sebelas bulan, saya merasa seperti kuliah kembali di universitas masyarakat dan menemukan banyak sekali pelajaran dan hal yang tidak pernah saya fikirkan sama sekali, hal yang mungkin tidak akan pernah saya tau bahkan tidak akan saya pedulikan jika tidak saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri. Semua itu membuat tangan saya gatal ingin belajar menulis dan menuangkan semua keresahan, pengalaman bahkan pelajaran yang saya dapatkan, saya ingin semua orang dapat keluar dan menemukan sesuatu juga, walau dalam wujud tulisan ini.

Cerita ini berasal dari ujung paling selatan sulawesi, disana ada sebuah rumah tua yang dihuni oleh sepasang suami istri yg sudah lanjut usia, umur nenek ini sekitar 70 tahun pendengarannya sudah mulai berkurang namun ia masih bersedia saya wawancarai, suaminya mengalami lumpuh dan memiliki penyakit komplikasi, salah satu penyakit yang dideritanya adalah penyakit gula (diabetes).

Dulu pekerjaan suaminya adalah sebagai nelayan, tapi setelah suaminya mulai menderita sakit,  mata pencaharin rumah tangga inipun terhenti dan sang nenek mulai berusaha bekerja lagi sebagai pengikat rumput laut, tetangganya yang memiliki usaha ini mempekerjakan beberapa ibu rumah tangga untuk mengikat rumput laut dan upah yang diperoleh pun tidak seberapa.

Perhatikan foto diatas, tepat dibelakang saya itu adalah laut dan rumah yang terbangun pas dibelakang nenek itu adalah rumahnya, sedangkan dulunya rumah yg terbangun tepat disebelah rumahnya itu dulunya tanah milik nenek ini juga, tapi karena jika air laut pasang, air terkadang masuk kerumah nenek hingga setinggi pinggang orang dewasa, hal tersebut membuat sang nenek dengan terpaksa harus menjual setengah dari tanahnya, uang dari hasil jual tanahnya tersebut di manfaatkan untuk meninggikan pondasi rumahnya dan dinding yang sebelumnya yang terbuat dari papan sudah diganti semen dan bata yang hanya dibagian belakang rumahnya saja, katanya supaya kalau air laut pasang, mereka tidak harus mengungsi kerumah kerabat lagi. Hal tersebut membuat saya kagum sama nenek ini, ia memiliki   prinsip yang kuat, walaupun dalam kesusahan, ia masih berfikir untuk tidak ingin menyusahkan orang lain. Saya pribadi merasa malu, merasa susah sedikit tapi banyak mengeluh dan berharap bantuan orang lain :(

cerita sang nenek tidak sampai disitu, setelah saya mengukur tekanan darah nenek ini saya pun mengukur Hb dan semua alhamdulillah normal, saya pun sempat menanyakan tadi nenek makan apa,? nenek itu mengatakan kalau ia makan nasi dan sayur kelor yang ia petik depan rumahnya, setelah saya selesai mengukur tensi dan Hb sang nenek, saya pun meminta untuk dipertemukan dengan sang kakek saya juga berniat untuk mengukur tekanan darah sang kakek, saya pun dipersilahkan untuk masuk kedalam rumah bertemu sang kakek dan seketika saya sangat terkejut dengan pemandangan didalam rumah sang nenek, hati saya seperti sangat teriris dan menangis, betapa mulia kedua orang tua lanjut usia ini masih melebarkan senyumnya untuk menyambut kedatanganku.


Luasnya kira-kira 10x5 meter, didalam rumah tidak ada ruangan atau sekat sama sekali, lantaipun hanya sedikit bagian yg disemen katanya itupun semen yang digunakan dari sisa membuat pondasi rumah, lantai yg lain hanya tanah yang agak becek didalam rumah, didalam hampir setengah bagian rumah nenek ini dipenuhi dengan barang-barang bekas melaut yg menumpuk seperti botol-botol bekas untuk pembibitan rumputlaut yang sudah lama tidak terpakai dan beberapa perkakas melaut milik sang kakek dulu yang tertumpuk menjadi satu , tempat tidur sang kakek terbuat seperti meja kayu yang dilapisi sarung. disebelahnya ada sebuah tumpukan piring, gelas plastik, wajan kecil dan panci, juga beberapa tumpukan kayu bakar serta dapok (tungku) yang digunakan untuk nenek memasak sehari-hari. Saya sempat bertanya apakah tidak ada bantuan dari pemerintah? katanya ia sudah pernah beberapa kali didata oleh petugas untuk dilakukan bedah rumah oleh pemerintah tapi sudah bertahun tahun ditunggu tidak ada sama sekali, sampai ia akhirnya menjual sebagian tanahnya untuk merenovasi sedikit rumahnya yang dulunya lebih parah.


setelah saya selesai mewawancarai sang nenek dan mengecek tekanan darah sang kakek, saya pun menyelesaikan tugas saya dan memberikan selembar amplop amanah dari kantor untuk keluarga yang selesai diwawancarai dan sang nenekpun bertanya "apa anne nak?" (ini apa nak?) saya pun berkata;"doe' nek...risareangki pole kantoro'kuu" (ini uang untuk nenek, dikasih dari kantorku) nenek langsung menyahut "ou,,,tarima kasi' nak" dan seketika itu dia membuka amplop itu dan mengambil selembar uang 50ribu didalamnya, belum juga saya menginjakkan kaki untuk keluar dan pamit, ia sudah keluar terburu-buru sambil mengencangkan ikatan sarung dipinggangnya, sayapun langsung segera menanyakan ia mau kemana kenapa sangat terburu- buru dan ia hanya menjawab "erokka pi ammalli biskui nak, injo kakeknu kemaring inji erokki makang biskui'" (saya mau pergi beli biskuit nak, kakekmu itu dari kemarin ingin sekali makan biskuit). Seketika itu saya tidak bisa lagi berbicara apa-apa, saya hanya melihat nenek itu semakin menjauh dari tatapanku berjalan menyeberangi jalan raya menuju warung seberang jalan.


ditulis dikamar, Rabu 16 Maret 2016

_wenwenmoury_






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih sudah membaca:) silahkan membubuhkan kritikan pedas maupun kritikan yg membangun:)