![]() |
| Masyarakat Tolotang (sumber gambar: google) |
Dua mobil Panther yang kami sewa masih terpakir rapi di depan rumah
Pak Sunarsih seorang Kepala Lingkungan yang kerap disapa Pak Lingkungan, juga biasa
disapa Uwak. Orang-orang
memanggilnya demikian karena beliau memiliki darah keturunan seorang tokoh
Tolotang.
Tolotang merupakan sebuah
kepercayaan yang terutama dianut oleh warga kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Sekitar 5000 warga di wilayah itu
menganut kepercayaan yang sudah turun temurun. Karena pemerintah Indonesia hanya mengakui enam agama, selebihnya
dikategorikan sebagai Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (sumber wikipedia). Penganut Tolotang tidak mau disebut sebagai penganut aliran kepercayaan, sebagian besar mereka memilih menuliskan agama Hindu di KTP.
Saya pernah mendengar
mengenai cerita asal usul Tolotang dari salah satu teman peneliti senior
bernama Kak Dani. Ia bercerita awalnya leluhur mereka berasal dari Kabupaten
Wajo namun setelah Islam masuk ke Kabupaten Wajo, Raja Wajo saat itu
memerintahkan semua masyarakat untuk beralih memeluk Islam dan meninggalkan
semua ajaran yang dipahami sebelumnya yaitu ajaran Sawerigading.
Raja Wajo mengusir masyarakat
yang tidak ingin memeluk Islam pada saat itu, masyarakat yang tetap
berpendirian teguh terpaksa harus meninggalkan tempat asal mereka dan mencari
tempat untuk tinggal. Tibalah mereka di Kerajaan Sidenreng, mereka di sambut
dan diterima dengan baik oleh Raja Sidenreng pada saat itu dan dengan kebaikan
hati Raja Sidenreng, mereka diberikan tempat di daerah bagian paling selatan
Kerajaan Sidenreng dengan syarat mereka harus saling menghargai dan menghormati
agama lain di sekitarnya. Saat itu mereka lebih sering disebut dengan julukan “orang
selatan/ tolotang”
Salah satu staff kelurahan mengantarkan kami ke rumah Pak Lingkungan. Sembari menunggu dan
meregangkan persendian tubuh akibat perjalanan jauh, saya memperhatikan keadaan
di luar dan terfokus pada keunikan rumah Pak Lingkungan yang memiliki
tiang berbentuk bulat, sebuah keunikan yang tidak biasa saya jumpai pada bangunan
rumah kayu adat Bugis. Setelah
membandingkan dengan rumah yang ada di sekitarnya
saya baru menyadari bahwa ternyata hampir seluruh rumah yang saya lihat memiliki
tiang bulat yang sama, hanya ukuran yang membedakan.
Di balik jendela mobil, Mas Asmadi yang merupakan supervisor kami, tampak terlihat
berusaha menjelaskan maksud kedatangan kami pada Pak Lingkungan dan staff kelurahan
yang mengantar kami.
Kabupaten Sidrap adalah salah satu dari 16
kabupaten di Sulawesi Selatan dan
Sulawesi Barat yang menjadi lokasi penelitian kami selama
sebelas bulan terikat kontrak pada sebuah lembaga penelitian. Kedatangan kami
menemui Pak Lingkungan adalah bagian dari awal penelitian yang akan kami
lakukan tepatnya di Kelurahan Kanyuara kecamatan Watang Sidenreng.
Berbekal izin yang telah diperoleh dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Kabupaten, Kecamatan hingga Kelurahan, kami meminta
izin untuk melakukan penelitian mengenai pendidikan, kesehatan dan ekonomi
masyarakat di Kelurahan Kanyuara. Juga izin menumpang
tinggal untuk beberapa
hari ke depan.
Pak Lingkungan tidak mengizinkan kami tinggal di
rumahnya, karena sebagai seorang uwak, rumahnya
merupakan tempat warga Tolotang untuk melakukan acara dan berbagai ritual
keagamaan. Salah
satunya seperti mappaenre nanre yang mewajibkan setiap warga Tolotang perlu
membawa beberapa sesajen, melakukan kegiatan berdoa dan meminta berkat dari Uwak.
![]() |
| Teman tim bersama Bapak Basecamp |
Kesibukan dan
posisinya tersebut tidak membuat
Pak Lingkungan
mengabaikan kedatangan kami, beliau tetap mengayomi kami dengan baik, ia
mengantarkan kami ke rumah kerabatnya
yang tidak jauh dari rumah Pak Lingkungan. Di sanalah kami tinggal bersama sepasang
suami istri yang memiliki beberapa anak yang masing-masing telah berkeluarga. Terkadang hanya ada mereka berdua di rumah yang kami
jadikan basecamp. Mereka pun menyambut kedatangan rombongan
kami dengan sangat baik.
Masih sedang menikmati perkenalan bersama dan bersenda gurau, terdengar suara adzan
dari kejauhan. Saya meminta ibu basecamp
untuk menunjukkan arah ke kamar mandi, ibu basecamp bertanya
padaku “mauki salat?” saya
menjawab “iye’bu...hehe”. Ibu basecamp menjawab “ouh iyah, di siniki salat nanti” sambil mengarahkan saya ke depan lemari yang
memiliki ruang kosong di depannya, ibu base camp tiba-tiba mengeluarkan alat salat lengkap dengan sajadah dari lemari itu. Saya melihatnya dengan
diam dan ibu base camp seperti bisa membaca segala pertanyaan yang ada
fikiranku saat itu “bukanka’ agama Islam
nak, tapi ada banyak keluarga yg Islam
selalu berkunjung ke sini. Mereka sering lupa bawa alat salat setiap ke sini, makanya saya
sengaja simpan supaya tidak lupa lagi” ibu basecamp
tersenyum dan menyerahkan alat salat
itu padaku “ouh iye ibu makasih, ada juga kubawa alat salat cuma masih ada di tas”, kataku sambil tersenyum. Ia pun
menunjukan kamar mandi kepadaku.
![]() |
| Bersama Ibu Basecamp |
Masak bersama ibu basecamp dan menyiapkan makan malam membuat kami mudah akrab dengan mudahnya. Sosok
ibu basecamp yang berjiwa muda, humoris dan terus-terus saja
menggodai saya dan kak
lina (salah satu teman tim) untuk
segera menikah, saya pun selalu menanggapi pembicaraannya dengan sedikit
candaan menggunakan bahasa bugis dan ia sangat senang karena lebih mudah ia
mengerti.
Sambil memasak, ibu bercerita banyak tentang
kunjungannya berdoa dan melakukan ritual keagamaan di makam dan berkunjung ke sumur tua yang ada di
Pinrang, bahkan di beberapa daerah
di Sulawesi Selatan. Setiap tahun sudah
menjadi sebuah kewajiban berkunjung berkeliling makam para leluhur, beberapa di antaranya seperti makam yang berada di daerah Perinyameng di Desa
Amparita Kabupaten Sidrap dan leluhur mereka yang berada di Kabupaten Pinrang dll.
Entah kenapa berbicara tentang perbedaan agama
itu tidak membuat kami canggung sama sekali, saya juga sempat menanyakan
mengenai mengapa tiang rumah warga di sekitar rata-rata berbentuk bulat dan ibu
menjelaskan dengan singkat bahwa itu memiliki arti khusus, yaitu keyakinan sama
halnya dengan tiang yang harus berdiri kokoh serta bulat seperti kepercayaan
yang tidak ada keraguan lagi (setelah mengkonfirmasi kembali via telfon, ibu
tidak menjelaskan secara spesifik).
Selain itu, saya memberanikan diri menanyakan
makanan apa yg mereka pantangi, sekejap ibu berkata dengan wajah yang
memberikan isyarat menenangkan dengan wajahnya yang tersenyum bahwa ia juga
tidak pernah makan-makanan yg di haramkan
sama seperti islam dan itu cukup membuatku lega (tunggu cerita kelaparanku di Rantepao hingga Tana Toraja “memburu
makanan halal ditengah gunung daerah terpencil”). (Satu hal untuk ini, setiap agama ataupun
kepercayaan memiliki cara beribadahnya masing-masing, tidak ada hak atas
paksaan di dalamnya, terlebih
tidak ada hak saling menghakimi satu sama lain, merasa paling benar, berkata
buruk dan saling menyakiti. Mengutip
beberapa terjemahan ayat Al-Qur’an “Untukmu agamamu, dan
untukkulah, agamaku”)
Pagi-pagi sekali sebelum
berangkat melaksanakan tugas penelitian, saya bersama Kak Lina menyempatkan
berbelanja untuk keperluan dapur basecamp
di Pasar
Tradisional Rappang. Sepulangnya kami sempat membeli ikan, telur, bumbu dapur,
beras, serta semangka berukuran besar dua buah yang sangat segar. Kak Lina
mulai memotong semangka itu dan mempersilahkan kami semua untuk menyantapnya
termasuk ibu yang berada di tengah-tengah kami, ibu basecamp mengambil satu
buah baki (nampan) berukuran kecil dan sempat meminta izin dengan logat Bugis khasnya “ibu ambil
sebagian semangkanya nah untuk adekmu” kami yang berada di situ sontak meng-iyakan perkataan ibu ”iye bu..silahkan ” Mana ada
anak atau adik kecil dirumah ini? Mungkinkah untuk anak kucingnya? (tanyaku
dalam hati)
Kami
melihat Kak
Lina yang tampak tidak heran untuk berbagi cerita tentang hal itu. Kak Lina terus-terusan membuat kami penasaran
dengan perkataanya “saya tau’ji untuk apa itu” kalimatnya yang meyakinkan
mengetahui segalanya.
Hingga ada suatu waktu saya
pernah duduk santai di depan lemari sambil menyenderkan punggung dan mengutak atik
HP, tidak sengaja ibu basecamp masuk membuka kamarnya dan lupa menutupnya
kembali pintu kamarnya, saya sempat menoleh dan penasaran ada benda aneh yang
sempat saya lihat di balik pintu kamar yang terbuka setengah, di antaranya mirip seperti
tempat box bayi yang tertutupi oleh kelambu berwarna kuning, di depannya ada beberapa lilin
merah yang sedang menyala dan beberapa sesajen buah-buahan yang telah tertata
rapi di depannya. Seketika saya merinding dan merasakan hawa mistis, sontak
saya mengalihkan pandangan dan menuju ke teras depan berkumpul bersama
teman-teman yang lain.
Saya menceritakan semua
kejadian yang saya lihat itu kepada Kak Lina dan Ia pun menceritakan bahwa
dulunya Ibu Basecamp pernah hamil namun di tengah usia kandungan, tiba tiba
bayi itu hilang dari perutnya, percaya tidak percaya, penduduk sekitar sangat mempercayai
hal itu dan adanya keyakinan bayi “mallajang” atau masih hidup namun berada di keadaan dunia
yang berbeda. Warna
kelambu menandakan bayi itu berada di air atau di udara.
_Selesai_
Senin, 11 April 2016
Selesai ditulis dikamar, Pukul 22.20 wita



Mantap Kakakcu
BalasHapusMkasih asistensi seharianx kakakcu...hahah
Hapus