GoriGorinaMoury

Kamis, 14 April 2016

Lebih Dekat dengan Orang Selatan (Tolotang)


Masyarakat Tolotang (sumber gambar: google)
Dua mobil Panther yang kami sewa masih terpakir rapi di depan rumah Pak Sunarsih seorang Kepala Lingkungan yang kerap disapa Pak Lingkungan, juga biasa disapa Uwak. Orang-orang memanggilnya demikian karena beliau memiliki darah keturunan seorang tokoh Tolotang.

Tolotang merupakan sebuah kepercayaan yang terutama dianut oleh warga kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Sekitar 5000 warga di wilayah itu menganut kepercayaan yang sudah turun temurun. Karena pemerintah Indonesia hanya mengakui enam agama, selebihnya dikategorikan sebagai Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (sumber wikipedia). Penganut Tolotang tidak mau disebut sebagai penganut aliran kepercayaan, sebagian besar mereka memilih menuliskan agama Hindu di KTP.

Saya pernah mendengar mengenai cerita asal usul Tolotang dari salah satu teman peneliti senior bernama Kak Dani. Ia bercerita awalnya leluhur mereka berasal dari Kabupaten Wajo namun setelah Islam masuk ke Kabupaten Wajo, Raja Wajo saat itu memerintahkan semua masyarakat untuk beralih memeluk Islam dan meninggalkan semua ajaran yang dipahami sebelumnya yaitu ajaran Sawerigading.

Raja Wajo mengusir masyarakat yang tidak ingin memeluk Islam pada saat itu, masyarakat yang tetap berpendirian teguh terpaksa harus meninggalkan tempat asal mereka dan mencari tempat untuk tinggal. Tibalah mereka di Kerajaan Sidenreng, mereka di sambut dan diterima dengan baik oleh Raja Sidenreng pada saat itu dan dengan kebaikan hati Raja Sidenreng, mereka diberikan tempat di daerah bagian paling selatan Kerajaan Sidenreng dengan syarat mereka harus saling menghargai dan menghormati agama lain di sekitarnya. Saat itu mereka lebih sering disebut dengan julukan “orang selatan/ tolotang” 

Salah satu staff kelurahan mengantarkan kami ke rumah Pak Lingkungan. Sembari menunggu dan meregangkan persendian tubuh akibat perjalanan jauh, saya memperhatikan keadaan di luar dan terfokus pada  keunikan rumah Pak Lingkungan yang memiliki tiang berbentuk bulat, sebuah keunikan yang tidak biasa saya jumpai pada bangunan rumah kayu adat Bugis. Setelah membandingkan dengan rumah yang ada di sekitarnya saya baru menyadari bahwa ternyata hampir seluruh rumah yang saya lihat memiliki tiang bulat yang sama, hanya ukuran yang membedakan. 

Di balik jendela mobil,  Mas Asmadi yang merupakan supervisor kami, tampak terlihat berusaha menjelaskan maksud kedatangan kami pada Pak Lingkungan dan staff kelurahan yang mengantar kami. 

Kabupaten Sidrap adalah salah satu dari 16 kabupaten di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat yang menjadi lokasi penelitian kami selama sebelas bulan terikat kontrak pada sebuah lembaga penelitian. Kedatangan kami menemui Pak Lingkungan adalah bagian dari awal penelitian yang akan kami lakukan tepatnya di Kelurahan Kanyuara kecamatan Watang Sidenreng. 

Berbekal izin yang telah diperoleh dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Kabupaten, Kecamatan hingga Kelurahan, kami meminta izin untuk melakukan penelitian mengenai pendidikan, kesehatan dan ekonomi masyarakat di Kelurahan Kanyuara. Juga izin menumpang tinggal untuk beberapa hari ke depan.

Pak Lingkungan tidak mengizinkan kami tinggal di rumahnya, karena sebagai seorang uwak, rumahnya merupakan tempat warga Tolotang untuk melakukan acara dan berbagai ritual keagamaan. Salah satunya seperti mappaenre nanre yang mewajibkan setiap warga Tolotang perlu membawa beberapa sesajen, melakukan kegiatan berdoa dan meminta berkat dari Uwak.
Teman tim bersama Bapak Basecamp
Kesibukan dan posisinya tersebut tidak membuat Pak Lingkungan mengabaikan kedatangan kami, beliau tetap mengayomi kami dengan baik, ia mengantarkan kami ke rumah kerabatnya yang tidak jauh dari rumah Pak Lingkungan. Di sanalah kami tinggal bersama sepasang suami istri yang memiliki beberapa anak yang masing-masing telah berkeluarga. Terkadang hanya ada mereka berdua di rumah yang kami jadikan basecamp. Mereka pun menyambut kedatangan rombongan kami dengan sangat baik.

Masih sedang menikmati perkenalan bersama  dan bersenda gurau, terdengar suara adzan dari kejauhan. Saya meminta ibu basecamp untuk menunjukkan arah ke kamar mandi, ibu basecamp bertanya padaku “mauki salat?” saya menjawab “iye’bu...hehe”. Ibu basecamp menjawab “ouh iyah, di siniki salat nanti” sambil mengarahkan saya ke depan lemari yang memiliki ruang kosong di depannya, ibu base camp tiba-tiba mengeluarkan alat salat lengkap dengan sajadah dari lemari itu. Saya melihatnya dengan diam dan ibu base camp seperti bisa membaca segala pertanyaan yang ada fikiranku saat itu “bukanka’ agama Islam nak, tapi ada banyak keluarga yg Islam selalu berkunjung ke sini. Mereka sering lupa bawa alat salat setiap ke sini, makanya saya sengaja simpan supaya tidak lupa lagi” ibu basecamp tersenyum dan menyerahkan alat salat itu padaku “ouh iye ibu makasih, ada juga kubawa alat salat cuma masih ada di tas”, kataku sambil tersenyum. Ia pun menunjukan kamar mandi kepadaku.
Bersama Ibu Basecamp
Masak bersama ibu basecamp dan menyiapkan makan malam membuat kami mudah akrab dengan mudahnya. Sosok ibu basecamp yang berjiwa muda, humoris dan terus-terus saja menggodai saya dan kak lina (salah satu teman tim) untuk segera menikah, saya pun selalu menanggapi pembicaraannya dengan sedikit candaan menggunakan bahasa bugis dan ia sangat senang karena lebih mudah ia mengerti. 

Sambil memasak, ibu bercerita banyak tentang kunjungannya berdoa dan melakukan ritual keagamaan di makam dan berkunjung ke sumur tua yang ada di Pinrang, bahkan di beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Setiap tahun sudah menjadi sebuah kewajiban berkunjung berkeliling makam para leluhur, beberapa di antaranya seperti makam yang berada di daerah Perinyameng di Desa Amparita Kabupaten Sidrap dan leluhur mereka yang berada di Kabupaten Pinrang dll. 

Entah kenapa berbicara tentang perbedaan agama itu tidak membuat kami canggung sama sekali, saya juga sempat menanyakan mengenai mengapa tiang rumah warga di sekitar rata-rata berbentuk bulat dan ibu menjelaskan dengan singkat bahwa itu memiliki arti khusus, yaitu keyakinan sama halnya dengan tiang yang harus berdiri kokoh serta bulat seperti kepercayaan yang tidak ada keraguan lagi (setelah mengkonfirmasi kembali via telfon, ibu tidak menjelaskan secara spesifik). 

Selain itu, saya memberanikan diri menanyakan makanan apa yg mereka pantangi, sekejap ibu berkata dengan wajah yang memberikan isyarat menenangkan dengan wajahnya yang tersenyum bahwa ia juga tidak pernah makan-makanan yg di haramkan sama seperti islam dan itu cukup membuatku lega (tunggu cerita kelaparanku di Rantepao hingga Tana Toraja “memburu makanan halal ditengah gunung daerah terpencil”). (Satu hal untuk ini, setiap agama ataupun kepercayaan memiliki cara beribadahnya masing-masing, tidak ada hak atas paksaan di dalamnya, terlebih tidak ada hak saling menghakimi satu sama lain, merasa paling benar, berkata buruk  dan saling menyakiti. Mengutip beberapa terjemahan ayat Al-Qur’an Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku)

Pagi-pagi sekali sebelum berangkat melaksanakan tugas penelitian, saya bersama Kak Lina menyempatkan berbelanja untuk keperluan dapur basecamp di Pasar Tradisional Rappang. Sepulangnya kami sempat membeli ikan, telur, bumbu dapur, beras, serta semangka berukuran besar dua buah yang sangat segar. Kak Lina mulai memotong semangka itu dan mempersilahkan kami semua untuk menyantapnya termasuk ibu yang berada di tengah-tengah kami, ibu basecamp mengambil satu buah baki (nampan) berukuran kecil dan sempat meminta izin dengan logat Bugis khasnya “ibu ambil sebagian semangkanya nah untuk adekmu” kami yang berada di situ sontak meng-iyakan perkataan ibu ”iye bu..silahkan ” Mana ada anak atau adik kecil dirumah ini? Mungkinkah untuk anak kucingnya? (tanyaku dalam hati)

Kami melihat Kak Lina yang tampak tidak heran untuk berbagi cerita tentang hal itu. Kak Lina terus-terusan membuat kami penasaran dengan perkataanya “saya tau’ji untuk apa itu” kalimatnya yang meyakinkan mengetahui segalanya. 

Hingga ada suatu waktu saya pernah duduk santai di depan lemari sambil menyenderkan punggung dan mengutak atik HP, tidak sengaja ibu basecamp masuk membuka kamarnya dan lupa menutupnya kembali pintu kamarnya, saya sempat menoleh dan penasaran ada benda aneh yang sempat saya lihat di balik pintu kamar yang terbuka setengah, di antaranya mirip seperti tempat box bayi yang tertutupi oleh kelambu berwarna kuning, di depannya ada beberapa lilin merah yang sedang menyala dan beberapa sesajen buah-buahan yang telah tertata rapi di depannya. Seketika saya merinding dan merasakan hawa mistis, sontak saya mengalihkan pandangan dan menuju ke teras depan berkumpul bersama teman-teman yang lain. 

Saya menceritakan semua kejadian yang saya lihat itu kepada Kak Lina dan Ia pun menceritakan bahwa dulunya Ibu Basecamp pernah hamil namun di tengah usia kandungan, tiba tiba bayi itu hilang dari perutnya, percaya tidak percaya, penduduk sekitar sangat mempercayai hal itu dan adanya keyakinan bayi “mallajang” atau  masih hidup namun berada di keadaan dunia yang berbeda. Warna kelambu menandakan bayi itu berada di air atau di udara.
_Selesai_
Senin, 11 April 2016
Selesai ditulis dikamar, Pukul 22.20 wita




2 komentar:

terima kasih sudah membaca:) silahkan membubuhkan kritikan pedas maupun kritikan yg membangun:)