![]() |
| Sumber : mediamakassar.com |
Mengendarai motor sebenarnya bukan
hal baru buat saya. Namun setelah kecelakaan 6 (enam) tahun silam yang
menyebabkan motor bapak saya rusak, celana saya robek dan beberapa luka abadi di lutut dan siku saya, membuat saya
harus mengubur keberanian mengendarai motor itu dalam-dalam.
Seiring berjalannya waktu, saya
merasa kegiatan saya sangat terbatasi karena tidak mampu mengendarai motor. Sering
kali saya tidak menghadiri kegiatan yang ingin saya hadiri karena alasan
tempatnya terlalu jauh dan tidak ada yang antar-jemput serta akses angkutan
umum yang sulit. Saya malas harus menyambung kendaraan beberapa kali pada titik
tertentu yang tidak dijangkau oleh angkutan umum. Hal tersebut sungguh
melelahkan dan menguras banyak waktu dan uang tentunya.
Kakak saya harus mengajar di sekolah setiap harinya, sedangkan adik laki-laki saya beberapa waktu
lalu ke Padang Lampe mengikuti kegiatan
kampus dan akan menetap disana selama sebulan, sementara bapak saya selalu
sibuk mengurusi usahanya setiap hari. Mereka adalah orang-orang yang selalu
setia mengantar saya kemana-mana dan saat ini saya tidak bisa mengandalkan mereka. Hmm..pacar??
eaaa… pacar mana pacar?? (berusaha tegarr..haha). Semua hal itu yang membuat saya harus memutar otak bagaimana
saya dapat mandiri dan tidak menyusahkan orang lain.
Saat itu saya harus mengurus
sesuatu yang sangat penting dikampus dan tidak ada satu orang pun yang bisa
saya minta tolongi untuk antar. Dirumah ada sebuah motor Supra X keluaran tahun 2001 yang terparkir rapi dan menganggur. Saya
mengumpulkan nyali untuk memberanikan diri berangkat menggunakan motor itu menuju
kampus merah yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan yang cukup jauh dari
rumah saya. Sebelumnya saya tidak pernah mengendarai motor sejauh itu dijalan
raya, biasanya hanya disekitar lorong perumahan dan itu pun sangat jarang saya
lakukan.
Mau tak mau saya harus menempuh
perjalanan sekitar 20 menit menyusuri jalan raya dan hari itu adalah pengalaman
pertama saya mengendarai motor di jalan raya. Dengan tangan cukup tegang
memegang kuat stang motor, kaki kiri menapak aspal yang cukup panas di bawah
terik matahari menahan keseimbangan motor yang sedang berhenti sejenak. Saya
merasakan pundak saya mengeras kaku,
saya merasa sepanjang perjalanan wajah saya tidak pernah rileks.
Di lampu merah Daya, tiba-tiba bunyi
klakson saling beradu, mengisyaratkan lampu lalu lintas warna merah telah
berganti dengan warna hijau. Saya berada tepat di baris terdepan dengan
kendaraan di samping kiri dan kanan yang sejak tadi ikut menanti lampu hijau
menyala. Saya melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan lampu lalu lintas.
Sepanjang perjalanan saya berusaha
untuk tetap rileks. Meyakinkan diri untuk tetap fokus dengan kecepatan
hanya berkisar 30-40 km/jam. Tiba-tiba angkutan umum, yang lebih akrab disebut ‘pete
pete’ oleh warga Makassar, berhenti
mendadak di depan saya. Sontak saya menarik rem tangan dan mengundurkan
persenelan. Tanpa rasa bersalah, si supir pete pete baru menyalakan wesernya
(lampu sein) dan meminggir perlahan ke sebelah kiri jalan.
Rasanya ingin memaki supir
pete-pete itu di depan wajahnya, namun saya tidak cukup berani melakukan hal
itu. Saya pun kembali melaju dengan motor butut saya, jantung masih berdebar
kencang sepanjang perjalanan karena kejadian tadi. Saya hanya bisa terus
menggerutu di dalam hati dan membayangkan bagaimana kiranya kalau tadi saya
benar-benar menabrak pete-pete itu. Ah masalah!
Saya lama menjadi penumpang setia
pete-pete dan saya memerhatikan hal yang menyebabkan pete-pete sering berhenti
mendadak tidak lain adalah untuk mendapatkan penumpang di pinggir ataukah ingin
menurunkan penumpang di pinggir jalan. Entahlah kalau ada hal lain yang
membuatnya kaget dan berhenti mendadak seperti dapat telfon kalau istrinya mau
melahirkan ataukah kedapatan selingkuh oleh istrinya (haha abaikan).
Pernah suatu waktu saya naik
pete-pete dan mendapati penumpang meneriaki supir untuk berhenti tiba-tiba. Suaranya
yang keras menggelegar tentu sangat mengagetkan supir yang tadinya sedang melaju
dengan tenang dan seketika itu menginjak rem secara spontan. Di sini yang harus
cerdas adalah penumpang bagaimana ia harus memperkirakan kapan dia akan turun
dan kapan ia harus memberitahukan berhenti kepada sang supir.
Perjalanan ke kampus yang tidak
mulus kembali harus saya alami saat menuju jalan pulang, kembali lagi saya
harus berurusan dengan pete-pete. Kali
ini saya mengambil jalur aman dengan berada tidak terlalu di pinggir jalan raya
dan juga tidak terlalu di tengah badan jalan untuk mengantisipasi kejadian tadi berulang. Tapi
tiba-tiba sebuah pete-pete kembali
mengambil jalur kiri yang sangat dekat dengan stang motor dan menerobos ke depan
saya dengan cepat. Saya kaget sambil menginjakkan rem kaki dengan
tersendat-sendat sambil mengurangi kecepatan.
Pengalaman buruk dengan pete pete
juga dialami oleh Kak Ifa salah satu kakak kelas di Kelas Kepo. “Saya sering
hampir tabrak pete-pete. Ada yang tiba-tiba berhenti, ada yang ambil jalur kiri
tanpa menyalakan lampu sein dan ada juga yang menurunkan penumpang sembarangan.
Saya sering istigfar setelah mengumpat dalam hati kalau ketemu supir pete-pete
yang seperti ini. Jalanan Makassar memang keras dek, perempuan harus bisa
bertahan” keluhnya.
Penyebab semrawutnya jalan raya di Makassar
bukan hanya dilakukan oleh pete-pete saja tetapi kendaraan lain pun terkadang
melakukan hal demikian. Pengguna jalan harus lebih bijak memperhatikan
keselamatan dirinya dan orang lain disekitarnya.
Terima Kasih
Ditulis di Kafe Pojok, 14 April
2016
_wenwenmoury_

Yang bikin paling malas naik pete-pete itu kalau harus nunggu penumpang sampai full dulu. Mana panas lagi. #BoringMoment
BalasHapusKalau adaji cewek cntikx...pasti betahji itu mukhsin menunggu toh?...haha
HapusBiar bagaimana cantiknya kalau buru-buru ki juga.
HapusTapi... kalau jadian ka dipete-pete, mungkin betah mi.. Hahahaha
Hahahah...😂😂😂
HapusHahaha.. Lanjut ketawa.
Hapusdari dulu, naik pete-pete selalu menyenangkan buat saya. Tergantung buru-buru atau tidaknya sih. hihihi.
BalasHapusHehehe...ap lagi kalau dengar lagu favoritta di kak diatas pete2...serasa ndag mau turun.wkwkw
Hapus